fall into a deep hole, sad, bad, low, down
pernah nggak bingung dengan ekspresi orang atau paling nggak dengan bagaimana seseorang mendeskripsikan dirinya dan pada akhirnya: karyanya?
sering kali gue menemukannya dalam lirik lagu, film, buku atau dalam obrolan sehari-hari, ekspresi atau deskripsi orang yang terobsesi dengan kematian. itu orangnya beneran terobsesi dengan kematian atau karena terobsesi dengan kematian adalah sesuatu yang cool atau keren atau extraordinary gitu sih?
nggak cuman obsesi dengan kematian tapi juga secara intensif menunjukkan ke-depresi-an, kesedihan, keterpurukan, dll. emang sih seringnya muncul dalam lagu, film atau buku, kalau dalam keseharian paling 1 atau 2 orang lah. tapi beneran nggak sih penulisnya ngalamin itu, atau paling nggak konstruksi sosial dalam dirinya adalah hal-hal "susah" itu?
soalnya kalo dalam lagu, musik dan film, kalo emang susah dan depresi kenapa tuh media publikasi itu bisa sampe dirilis yah? bukannya itu sesuatu yang menyenangkan [nggak depresi lagi dong!]? maksudnya, kan kalo rilis media gitu, bukannya hari-hari penuh dengan kebahagiaan [yap secara teknis], ngundang-ngundang orang, ntar pas launching pake baju apa, sepatu apa, etc? kok sempet yah, bukannya udah terlalu sibuk dengan kedepresian dan keobsesian dengan kematian itu? terus kenapa mesti dipublikasikan sih?
in a way gue suka sih emang nonton film-film yang depresi gitu, atau denger musik dengan notasi yang depresi juga dan mempengaruhi mood untuk jadi low gitu dan bikin nagih untuk jadi low terus. gue kadang suka karena itu menimbulkan pertanyaan, bukan karena gue merasa ada dalam kondisi yang sama atau setuju dengan ekspresi itu. atau jangan-jangan orang-orang yang sekarang terobsesi dengan kematian dan depresi terpengaruh oleh karya-karya yang diciptakan oleh orang-orang sebelumnya? apalagi kalo akhirnya si penulis lagu dan film atau buku itu sangat diakui eksistensinya dan kalo nggak suka karya mereka berarti nggak keren, gitu yah?
gue kok lebih suka dengan orang yang mengekspresikan kemarahan. agak lebih bisa diterima [which is mungkin buat yang emotionally wise, balance, whatsoever, they would say ngapain juga marah2]. dalam karya foto, film, buku dan lagu, kemarahan masih lebih masuk akal untuk diapresiasi karena sering kali adalah sebagai bentuk perlawanan atau sekedar ekspresi aja titik. gue akui gue juga ngerasa lebih produktif kalo lagi marah, terutama nulis dan motret. tapi kan itu marah, bukan pengen mati.
terus sekarang gue perhatikan si sosok yang marah-obsesi dengan kematian-depresi etc adalah tidak berlatarbelakang yang signifikan gitu yah. kayak misalnya band. banyak band terdiri dari orang-orang yang kehidupannya baik-baik aja, lebih dari baik malah. orang tua support, secara finansial terjamin, pergaulan ok, pembuktian diri ok, tapi kok bikin lagu tentang terobsesi dengan kematian. asal muasalnya dari mana yah? konstruksi sosialnya [apa sih gue konstruksi sosial melulu?] kayaknya nggak nyambung gitu.
kalo depresi karena terobsesi dengan drugs, weittss ntar dulu, itu beda lagi. itu namanya nggak sensitif. bukannya apa-apa, sok bersih atau sok aktivis atau sok tau-karena-belum-pernah-nyobain aja, buset hari gini terobsesi sama drugs. apa kabar tuh orang-orang yang terobsesi -pengen makan- di sudan, afrika, timur tengah dll? anyway, ini nggak nyambung. jadi kalo depresi dan pengen mati karena drugs nggak masuk itungan ya, masih banyak yang lebih sedih, yang makan aja susah. back to ekspresi dalam karya-karya itu ya.
bukan band aja, tapi juga buku, dan film. foto masih lebih blak-blakan terkadang, masih sulit menelikungnya.
kesimpulan, itu orang-orang beneran pengen mati sekarang juga gitu maksudnya? gimana sih? pengen mati=keren? depresi=keren? gue kok nggak ngerti. atau gue aja yang nggak keren karena nggak bisa mengerti mereka?
terus kenapa juga gue siang-siang gini mikirin beginian. bukannya mestinya mikirin cover. cover bulan ini apa ya bagusnya? apa ya?
sering kali gue menemukannya dalam lirik lagu, film, buku atau dalam obrolan sehari-hari, ekspresi atau deskripsi orang yang terobsesi dengan kematian. itu orangnya beneran terobsesi dengan kematian atau karena terobsesi dengan kematian adalah sesuatu yang cool atau keren atau extraordinary gitu sih?
nggak cuman obsesi dengan kematian tapi juga secara intensif menunjukkan ke-depresi-an, kesedihan, keterpurukan, dll. emang sih seringnya muncul dalam lagu, film atau buku, kalau dalam keseharian paling 1 atau 2 orang lah. tapi beneran nggak sih penulisnya ngalamin itu, atau paling nggak konstruksi sosial dalam dirinya adalah hal-hal "susah" itu?
soalnya kalo dalam lagu, musik dan film, kalo emang susah dan depresi kenapa tuh media publikasi itu bisa sampe dirilis yah? bukannya itu sesuatu yang menyenangkan [nggak depresi lagi dong!]? maksudnya, kan kalo rilis media gitu, bukannya hari-hari penuh dengan kebahagiaan [yap secara teknis], ngundang-ngundang orang, ntar pas launching pake baju apa, sepatu apa, etc? kok sempet yah, bukannya udah terlalu sibuk dengan kedepresian dan keobsesian dengan kematian itu? terus kenapa mesti dipublikasikan sih?
in a way gue suka sih emang nonton film-film yang depresi gitu, atau denger musik dengan notasi yang depresi juga dan mempengaruhi mood untuk jadi low gitu dan bikin nagih untuk jadi low terus. gue kadang suka karena itu menimbulkan pertanyaan, bukan karena gue merasa ada dalam kondisi yang sama atau setuju dengan ekspresi itu. atau jangan-jangan orang-orang yang sekarang terobsesi dengan kematian dan depresi terpengaruh oleh karya-karya yang diciptakan oleh orang-orang sebelumnya? apalagi kalo akhirnya si penulis lagu dan film atau buku itu sangat diakui eksistensinya dan kalo nggak suka karya mereka berarti nggak keren, gitu yah?
gue kok lebih suka dengan orang yang mengekspresikan kemarahan. agak lebih bisa diterima [which is mungkin buat yang emotionally wise, balance, whatsoever, they would say ngapain juga marah2]. dalam karya foto, film, buku dan lagu, kemarahan masih lebih masuk akal untuk diapresiasi karena sering kali adalah sebagai bentuk perlawanan atau sekedar ekspresi aja titik. gue akui gue juga ngerasa lebih produktif kalo lagi marah, terutama nulis dan motret. tapi kan itu marah, bukan pengen mati.
terus sekarang gue perhatikan si sosok yang marah-obsesi dengan kematian-depresi etc adalah tidak berlatarbelakang yang signifikan gitu yah. kayak misalnya band. banyak band terdiri dari orang-orang yang kehidupannya baik-baik aja, lebih dari baik malah. orang tua support, secara finansial terjamin, pergaulan ok, pembuktian diri ok, tapi kok bikin lagu tentang terobsesi dengan kematian. asal muasalnya dari mana yah? konstruksi sosialnya [apa sih gue konstruksi sosial melulu?] kayaknya nggak nyambung gitu.
kalo depresi karena terobsesi dengan drugs, weittss ntar dulu, itu beda lagi. itu namanya nggak sensitif. bukannya apa-apa, sok bersih atau sok aktivis atau sok tau-karena-belum-pernah-nyobain aja, buset hari gini terobsesi sama drugs. apa kabar tuh orang-orang yang terobsesi -pengen makan- di sudan, afrika, timur tengah dll? anyway, ini nggak nyambung. jadi kalo depresi dan pengen mati karena drugs nggak masuk itungan ya, masih banyak yang lebih sedih, yang makan aja susah. back to ekspresi dalam karya-karya itu ya.
bukan band aja, tapi juga buku, dan film. foto masih lebih blak-blakan terkadang, masih sulit menelikungnya.
kesimpulan, itu orang-orang beneran pengen mati sekarang juga gitu maksudnya? gimana sih? pengen mati=keren? depresi=keren? gue kok nggak ngerti. atau gue aja yang nggak keren karena nggak bisa mengerti mereka?
terus kenapa juga gue siang-siang gini mikirin beginian. bukannya mestinya mikirin cover. cover bulan ini apa ya bagusnya? apa ya?

3 Comments:
wah gue paling nggak bisa tuh baca buku2 bernada suram apalagi tentang kematian2 ...kemaren aja gue nyoba memaksakan diri baca sekilas tuesdays with morrie [yg menurut gue nggak semati-mati 5 people u meet in heaven] di kino,dgn niat kl tyt nggak sesuram yang gue bayangkan, bakal dibeli mumpung sale 20% dari 80 rb, mayaaan...TETEP NGGAK MAMPU! meski sebenernya itu tentang lesson in life tapi tetep aja settingannya menghadapi kematian. CANNOT. aura langsung gloomy bawaannya. kalo dibilang nggak keren krn gak bs mengapresiasi karya2 gelap...sok aja lah...hehehe. gue bahagia kok jadi orang yang ceria. heiehiheihei...
By
caramello, at 9:22 PM
Well, a poet needs a pain darling... it happens.
By
LUNATIC DWEEBSTARR, at 8:12 PM
i know some people who can only write poem/lyrics/articles/books when they're sad,depressed or down.im also one of those.
as ironic as it sounds, but i guess some people can actually express themselves better or get their muse when they're having much more stronger trigger,like sadness/depression/pain. u know how it is, when you're really hurt but you cant describe it,you cant tell people about it but you just feel like want to rip it off your chest?--then eventually you'll look for the medium to accomodate that.
but of course, there are some peeps that are just posers, doing it for the sake of trend.but you can actually distinguish the real ones and the fakers from the results. so dont go for the posers!
By
daydreamer, at 9:26 PM
Post a Comment
<< Home